Senin, 13 Mei 2013

WORLDVIEW DAN KONSEP ILMU ISLAMI


WORLDVIEW DAN KONSEP ILMU ISLAMI
Mengkaji Worldview Islam dan Barat Mengenai Terminology serta Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Pemikiran dan Peradaban Islam.
Oleh; Minten Ayu Larassati
Kehidupan manusia baik secara individu maupun kelompok akan memiliki worldview (pandangan dunia) yang dimana setiap kepercayaan, bangsa, peradaban bahkan setiap orang memiliki worldview masing-masing,  dengan mengambil worldview tertentu tatanan kehidupan manusia mengalami perbedaan satu dengan yang lainnya. Munculnya worldview di pengaruhi bebrapa faktor, adapun faktor dominannya adalah sistem kepercayaan, kebudayaan, agama, filsafat, tatanan nilai dan masih banyak lagi.
Terminology beberapa ahli Barat menjelaskan worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral (Ninian Smart). Worldview adalah sistim kepercayaan dasar yang integral tentang diri kita, realitas, dan pengertian eksistensi (An integrated system of basic beliefs about the nature of yourself, reality, and the meaning of existence) (Thomas F Wall). Worldview adalah asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiyah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, dan dengan begitu aktifitasnya dapat direduksi kedalam pandangan hidup (Prof.Alparslan). Setiap aktivitas  manusia akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya, dan dalam pengertian itu maka aktivitas manusia dapat direduksi menjadi pandangan hidup. (The foundation of all human conduct, including scientific and technological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview and as such it is reducible to that worldview)
Dari ketiga devinisi tersebut terdapat tiga poin besar yang ada dalam worldview yaitu satu, worldview adalah motor perubahan sosial. Dua, asas bagi pemahaman realitas, dan tiga, asas bagi aktifitas ilmiah. Elemen pembentuk worldview Barat menurut Thomas F Wall adalah kepercayaan kepada Tuhan, konsep ilmu, konsep realitas, konsep diri, konsep etika, dan masyarakat. Sedangkan menurut Ninian Smart unsur yang membentuk worldview adalah doktrin, mitologi, konsep etika, ritus, pengalaman dan kemasyarakatan.
Dalam terminology Islam worldview dimaknai sebagai al-tasawwur al-Islami oleh Sayyid Qutb , Al-Mabda’ al-Islami oleh Syaikh ‘Atif al-Zayn, Islam Nazariyyat oleh al-Mawdudi, dan ru’yat al-Islam lil Wujud oleh Syed Mohammad Naquib al-Attas. Pertama, Al-tasawwur al-Islami adalah akumulasi dari keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim, yang memberi  gambaran khusus tentang wujud dan apa-apa yang terdapat di sebalik itu. Kedua, Al-Mabda’ al-Islami. Al-Mabda’ adalah aqidah fikriyyah  (kepercayaan yang rasional) yang berdasarkan pada akal, sebab setiap Muslim wajib beriman kepada, hakekat wujud Allah, kenabian Muhammad SAW,  al-Qur’an, hal-hal yang ghaib. Yang di maksud Al Islami adalah agama Islam sebagai Din yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, dengan dirinya dan lainnya. Ketiga, Islami Nazariyat adalah pandangan hidup yang dimulai dari konsep keesaan Tuhan (shahadah) yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan manusia di dunia. Sebab shahadah adalah pernyataan moral yang mendorong manusia untuk melaksanakannya. Keempat, ru’yaat al-Islam lil-wujud (pandangan Islam tentang wujud) adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang nampak oleh mata hati kita dan yang menjelaskan hakekat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total.
Setiap worldview memiliki elemen atau unsur  yang membentuk, sehingga ia dapat secara kuat di jadikan sebagai pandagan hidup. Adapun Unsur pembentuk worldview Islam menurut Shaykh Atif al-Zayn adalah konsep wahyu, konsep Din-daulah, kesatuan spiritual dan material.  Sedang Sayyid Qutb menjebarkan unsur pembentuknya adalah suatu keseluruhan, dipisahkan oleh elemen, atau bagian (juz'), dan menurut Naquib Al-Attas unusr pembentuknya antara lain yaitu konsep tentang hakekat Tuhan, konsep Wahyu (al-Qur’an), konsep penciptaan, konsep jiwa, konsep ilmu, konsep Din,konsep kebebasan, nilai dan kebajikan, konsep  kebahagiaan.
Devinisi tersebut melahirkan gejolak luar biasa yang melahirkan gerakan orientalisme dan scularism, yang memisahkan antara Barat dan timur (Islam). Untuk melihat lebih jelas perbedaan tersebut maka hal yang dilakukan adalah membandingkan kedua pandagan antara worldview Islam dan Barat. Perbedaan tersebut diambil berdasarkan asas, pendekatan, sifat, makna realitas dan kebenaran, obyek kajian, dan elemen-elemen yang menyusunnya.
Worldview Barat berisi; Satu, asasnya menggunakan tumpuan berfikir yang sumbernya berdasarkan rasio manusia  dan spekulasi filosofis. Dua, pendekatan yang diambil adalah dengan metode pendekatan dichotomy, dimana pendekatan ini membagikan atas dua kelompok yang saling bertentangan. Tiga, hasil kajian kebenarannya bersifat rasionalitas, terbuka dan selalu berubah. Empat, pemaknaan realitas dan kebenaran mempertimangkan pandangan sosial, kultural, empirisisme pengetahuan, dan rasionalitas manusia. Lima, objek kajian berupa tata nilai yang ada di masyarakat. Enam, Elemen-elemen pandangan hidup diambil berdasar agama, moralitas, filsafat, politik, kebebasan, persamaan, dan individualisme. Dari ke enam hal tersebut maka worldview Barat menempatkan agama sebagai salah satu elemen dari peradaban.
Berbeda dengan worldview Islam dimana; pertama, asasnya menggunakan tumpuan brifikir berdasarkan wahyu, hadith, akal, pengalaman, dan intuisi. Dua, pendekatan yang diambil adalah dengan pendekatan Tawhidi. Tiga, hasil kajian kebenarannya bersifat otentisitas dan finalitas. Empat, pemaknaan realitas dan kebenaran mempertimbangkan kajian metafisi yang berasaskan wahyu. Lima, Objek kajian berupa invisible (tak kelihatan; tak terlihat) dan  visible (kelihatan sekali, terang jelas dan nyata) ‘Ālam al-Mulk & ‘Ālam al-Syahādah. Enam, Elemen-elemen pandangan hidup diambil berdasar konsep Tuhan, konsep wahyu, penciptaan, manusia, ilmu, agama, kebebasan, nilai dan moralitas. Dari keenam hal tersebut maka worldview Islam menempatkan Agama sebagai asas seluruh elemen peradaban.
Barat yang menempatkan agama sebagai salah satu elemen dari peradapan maka Worldviewnya menghasilkan grakan pluralism, liberalism, nihilisme, anti-otoritas, anti worldview, equality, empiric, dan relativism.  Telah kita ketahui worldview gerakan Barat dapat mengkaburkan kebenaran dan ajaran, sehingga worldview Barat dapat masuk kedalam tatanan worldview Islam adapun tatanan dari hasil gesekan tersebut menghasilkan gerakan yang berupa kesamaan agama, feminisme, gerakan gender, kritis terhadap otoritas ulama dan ilmu-ilmu dalam Islam, kritis terhadap al-Qur’an, hermeneutika, HAM, dan dekonstruksi/anti syariah.
Dengan worldview Islam yang menempatkan agama sebagai asas seluruh elemen peradaban, salah satunya akan mewujudkan tradisi intelektual Islam. Dimana tradisi intelektual dalam Islam mengiringi munculnya disiplin ilmu-ilmu misalnya ilmu-ilmu fikih, kalam, hadits, faraidh, falak dan lain sebagainya. al-Suffah di Madinah adalah Salah satu bukti sejarah akan adanya masyarakat ilmuwan atau kelompok belajar atau sekolah yang menggunakan tradisi Islam sebagai pandagan hidup  ilmiyah.  Framework yang dipakai pada awal lahirnya tradisi keilmuan sudah tentu adalah kerangka konsep keilmuan Islam (Islamic conceptual scheme). Indikasi adanya kerangka koseptual ini adalah usaha-usaha para ilmuan untuk menemukan beberapa isltilah teknis keilmuan yang canggih.
Berlanjut pada padangan dunia Islam berpuasat pada aqidah tauhid, dimana ini adalah salah satu dari tujuh karekteristik pandagan hidup Islam menurut Sayyid Qutb yaitu; Rabbanniyyah (bersumberdari Allah),  bersifat tahabat (konstan), bersifat shumul (konprehensif), tawazun (seimbang), ijabiyyah (positif), waqi’iyyah (prakmatis), Tauhid (keesaan). Bertumpu dan berpusat artinya dijadikan tempat berpijakan berpumpu dalam menjalani kehidupan. Konsep Tuhan dalam Islam adalah sentral dan tidak sama dengan konsep yang terdapat dalam tradisi keagamaan lainnya. Karakteristik ini menjadi karekteristik yang mendasar dari pandagan hidup Islam dimana pernyataan bahwa Tuahan itu adalah Esa dan segala sesuatu diciptakanNya. Karena itu tidak ada penguasa selain Dia, tidak ada legislator selain Dia, tidak ada siapapun yang mengatur kehidupan manusia dan hubungannya dengan dunia dan dengan manusia serta mkhluk hidup lainnya kecuali Allah. Petunjuk undang-undang dan semua sistem kehidupan, norma atau nilai yang mengatur hubungan antara manusia berasal dari padaNya.
Tauhid dalam tatanan praktis mesti menjadi komitmen keimanan terhadap Allah, keluar dari komitmen ini berarti keluar dari lingkaran tauhid, bahkan bisa dikatakan fasiq atau kufur. Nyata, dari komitmen ini setiap pemberhalaan adalah sesuatu yang harus dihilangkan dari kehidupan umat. Tauhid dalam makna universal merupakan paradigma teologis yang bersifat memerdekakan atau membebaskan manusia. Ekses tauhid ialah membebaskan manusia dari rantai idolisme, memerdekakan manusia dari kemapanan yang menyesatkan. Tauhid merupakan komitmen menyeluruh, mendasar, menjadi patokan bahwa sumber dan dasar kehidupan adalah Allah, dan bermuara pada aksi kemanusiaan.
Pandangan tauhid berpatokan pada komitmen meng-Esakan Tuhan (unity of Good head) akan melahirkan konsepsi ketauhidan yang lain, dalam wujud keyakinan akan muncul kesatuan penciptaan (unity of creation), kesatuan kemanusiaan (unity of mankind), kesatuan pedoman hidup (unity of guidance), dan kesatuan tujuan hidup (unity of tbe purpose of life) umat manusia. Kelima sudut pandang ini menjadikan tauhid terpencar-pecar sebagai energi baru untuk mengaktualkan semangat ketuhanan dalam sistem sosial dan politik, hingga ruang publik sebagai representasi ruang sosial dilingkupi oleh semangat transcendental.
Implikasi tauhid terhadap pengembangan dan perkembangan pemikiran dan peradaban adalah dengan kemunculan institusi-institusi di berbagai bidang. Tauhid merupakan dasar pandangan, tradisi, budaya, politik dan peradaban masyarakat muslim. Diaplikasikan dengan  ikrar kesaksian bahwa Tuhan (Allah) adalah Esa dan tidak ada sesuatu  yang lain yang menyekutui-Nya bukan sekedar pernyataan verbal individual semata, melainkan juga seruan untuk menjadikan ke-Esa-an itu sebagai basis utama bagi pembentukan tatanan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan masyarakat manusia.
Mengimplementasikan tauhid dalam tatanan politik yaitu dengan mengikuti segala aturan-aturan yang telah disebut dalam al-Qur’an dan sunnah. Selain itu implikasi tauhid terhadap pengembangan dan perkembangan pemikiran dan peradaban adalah dengan kemunculan institusi-institusi di berbagai bidang yang berlandaskan Islam, misalnya pendidikan Islam, seni Islam, etika Islam, ekonomi Islam yang penting seperti bank Islam, asuransi Islam, pasar modern Islam dan sebagainya.  Bukti tersebut membuktikan bawa agama Islam adalah agama sekaligus peradaban. Dengan polanya, Ia dapat mempengaruhi perkembagan dunia. Perkembangan Islam dijaman modern ini adalah sebagai bukti bahwa selagi ada Islam, selagi itu pula Islam mampu untuk menjadi peradaban yang memimpin dunia akan tetap ada.
Pengaruh worldview non Islam misalnya secularism dan liberalism adalah dekonstruksi makna Islam, sehingga salah satunya sampai pada kesimpulan bahwa Islam bukan nama agama Allah yang sempurna, final dan benar. Untuk menaggapi hal tersebut perlu ada pembantahan secara tegas agar pandagan seperti itu tidak membahayakan bagi generasi muslim. Adapun salah satu cara adalah pertama, dengan  pemahaman konsepsi Tauhid atau ajaran Monotheisme dalam Islam disebut suatu konsepsi tertinggi dalam ajaran ke-Tuhanan (The Highest conception of Godhead). Karena ajaran ini dengan sendirinya menolak setiap bentuk ideologi dan falsafah diluar konsepsi tauhdid tersebut. Kedua, konsepsi Tauhid Uluhiyah harus konsisten terhadap hukum wahyu dalam gagasan keyakinan dan pelaksanaannya. Tanpa konsistensi keyakinan ini secara gagasan maupun gerak akan dinyatakan sebagai syirik (musyrik). Ketiga, Realisasi dari tauhid uluhiyah ini adalah pengabdian (ibadah) hanya kepada Allah. Keempat, perlu dipahami bahwa konsep normative Tuhan adalah wahyu. Kelima, pemahaman mengenai bahaya secularism dan liberalism, dimana bahwa secularism ditinjau dari sudut pandang agama adalah sebuah ajaran yang tidak dapat diterima sebab scularism adalah seruan utnuk mempergunakan hukum jahiliyah atau hukum positif yang di ciptakan manusia, bukan hukum yang di tutunkan oleh Allah SWT.
Jika ada orang yang mengtakan sesungguhnya Islam sekedar agama saja dan perananya hanya pembersih jiwa, penegak syariat dan tidak ada hubungannya dengan Negara, dasar perundang-undangan, urusan politik, dan ekonomi. Ketika itu terjadi maka kita waib mengembalikan segala masalah-masalah dan urusan kepada Allah, karen dengan mengembalikan itu kita berpedoman kepada kitabNya (al Qur’an), sementara makna mengemablikan segala urusan kepada Rasul adalah pedoman kepada sunah Rasulullah saw.

Senin, 01 April 2013

Minggu, 25 November 2012

Mencari Esensi CINTA di Pulau Kamaro Palembang














Rabu, 24 Oktober 2012

METODE PENELITIAN NARATIF


METODE PENELITIAN NARATIF
Sebagai Cara dalam Menelusur dan Menguak Cerita dari Hasil Penelitian Menjadi Sesuatu Yang Bersifat Ilmiyah.
Disampaikan dalam Diskusi Pasca-Sarjan UMS Metode Penelitian dalam Pendidikan Islam.
Oleh: Minten Ayu Larassati

A.       Pengantar
Manusia adalah  makhluk Storying[1]. Memahami dunia dan hal-hal yang terjadi adalah dengan membangun narasi untuk menjelaskan dan menginterpretasikan kejadian baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Struktur narasi dan kosa kata yang kita gunakan ketika kita berinteraksi dan bercerita mengenai kisah dan pengalaman hidup kita secara detail dan signifikan, akan memberikan informasi tentang posisi sosial dan budaya.[2] Dalam arti ini cerita bukan hanya menjadi cerita saja, melainkan menjadi bagian dari penelitian untuk memahami manusia dan dunianya.
Identitas manusia dibentuk dan berkembang seturut dengan cerita yang diajarkan kepadanya, sekaligus cerita yang dituturkan di dalam hidupnya, dengan demikian narasi atua cerita bisa mempengaruhi/memberikan opini tersendiri bagi penikmat narasi. Metode naratif hendak memahami kehidupan manusia yang memang penuh dengan ‘cerita’. Pendekatan ini lebih bersifat holistik, detil, dan sangat kualitatif guna memahami kehidupan manusia yang terus berubah sejalan dengan perubahan waktu.
Di dalam bukunya Wabster dan Metrova mengajukan tiga hal yang kiranya perlu untuk memahami inti dari metode naratif. Tiga hal itu dirumuskannya dalam tiga pertanyaan. Mengapa naratif? Mengapa cerita yang dijadikan sebagai titik tolak penelitian? dan aspek-aspek apa sajakah yang perlu dikuasai di dalam model penelitian naratif?.  Dengan menjawab tiga pertanyaan itu, maka metode penelitian naratif dapatlah dirumuskan sebagai metode penelitian yang sifatnya koheren dan integral. Di dalam tulisannya Wabster dan Metrova menyatakan dua kontribusi metode naratif di dalam penelitian ilmu-ilmu sosial, yaitu satu, metode naratif membantu menegaskan sejarah dari kesadaran manusia. Metode naratif mau menganalisis cerita yang dituturkan maupun yang didengarkan orang sedari ia kecil, dengan demikian cerita tidak hanya membentuk manusia individual, tetapi juga manusia sebagai keseluruhan, yakni manusia sebagai spesies. Yang kedua pada level individual, menurut Wabster dan Metrova , cerita adalah cerminan dari pribadi personal setiap orang. Di dalam cerita terkandung sejarah dan ingatan tentang masa kecil, remaja, dewasa, sampai masa tua seseorang.[3]
Di dalam filsafat pendidikannya, John Dewey menggunakan narasi (cerita) sebagai titik tolaknya. Baginya cerita memiliki pengaruh besar di dalam perkembangan kesadaran diri manusia. Tidak hanya itu baginya, masyarakat manusia pada umumnya berkembang dengan berpijak pada tradisi oral (tutur cerita) yang sangat mengedepankan pendidikan melalui cerita. Maka dari itu cerita memiliki peran yang sangat penting di dalam pembentukan cara berpikir dan karakter manusia. Jika narasi memang memiliki peran yang begitu penting di dalam kehidupan, maka penelitian atasnya juga membantu kita untuk memperoleh pengertian lebih tentang iklim pendidikan di suatu masyarakat, baik pendidikan dalam bentuk keterampilan teknis, ataupun pendidikan yang sifatnya lebih teoritis yang sifatnya lebih membentuk pemikiran dan pandangan dunia (world view).
Dalam makalah ini akan membahas mengenai narasi yang di gunakan dalam penelitian yang kemudian di sebut sebagai metode penelitian naratif.

B.       Sejarah Narasi[4]
Sejarah narasi (bahasa Inggris: oral history) para ilmuwan Eropa sejak dua abad berselang sangat memandang tinggi penggunaan dokumen sebagai dasar penelitian karena dokumen dianggap dapat mengungkapkan keabadian serta kekinian yang dapat dirangkul, diinterpretasi dan dieksplanasi sehingga timbul pameo no documents, no history sikap pandangan ini berangsur-angsur mulai berubah karena sebetulnya sikap yang demikian merupakan penutup pintu terhadap sejarah mayoritas penduduk dunia yang tidak terdokumentasi, yang lahir, yang hidup, dan yang kematinya pun tidak pernah tercatat dalam dokumen apapun. kebanyakan berasal dari sejarah masyarakat yang terjajah, yang tidak berdaya, buruh, wanita, anak-anak, dan etnis minoritas, jarang muncul dalam sumber tertulis.
Dalam perkembangan dengan ditemukan teknologi rekaman dan berkembangnya penelitian lisan serta pemanfaatannya oleh para sejarawan, mereka yang diam itu telah diberi ruang untuk ikut bersuara dan dengan demikian dapat ikut berbicara mengenai masa lampau dan secara bersama ikut menata masa depan. "Sejarah narasi berhasil membangun pemahaman yang lebih baik mengenai masa lampau dengan cara menyediakan pandangan dan kisah yang makin luas bagi generasi mendatang. Kemungkinan yang demokratis yang dibuka oleh sejarah narasi terletak pada keanekaragaman pandangan yang dapat disediakan. Sejarah narasi dapat membebaskan peneliti dari kendala-kendala definisi tradisional dan politis mengenai siapa yang membuat sejarah dan apa yang disebut sumber sejarah.

C.       Pengertian Penelitian Naratif
1.      Struktur Naratif
Gaya naratif merupakan kekuatan dari riset kualitatif, tekniknya sama dengan bentuk story telling dimana cara penguraian yang menghablurkan batas-batas fiksi, jurnalisme dan laporan akademis, “ narratives in story telling modes blur the lines between fiction, jurnalism and scholarly studies. Bentuk penelitian naratif antara lain; memakai pendekatan kronologis sepersis menguraikan peristiwa demi peristiwa di bentangkan secara perlahan mengikuti proses waktu (slowly over time), seperti ketika menjelaskan subyek studi mengenai budaya saling-berbagi di dalam kelompok (a ulture-sharingg group), narasi kehidupan seseorang (the narrative of the life of on individual) atau evolusi sebuah program atau sebuah organisaasi (evolution of a program or an organization). Teknik lainnya ialah seperti menyempitkan dan memfokuskan pembahasan. Laporan juga bisa seperti pendeskripsian pelbagai kejadian, berdasarkan tema-tema atau persepektif tertentu. Gaya naratif, dari studi kualitatif bisa juga mengerangkakan sosial tipikal keseharian hidup seseorang (a typical day in the life)  dari sosok individu atau kelompok.[5]
Unsur pokok yang ada disetiap bentuk naratif dalam sastra adalah plot (alur erita), yang meliputi beginng (awal), middel (tenggah) dan ending (akhir). Bagian awal yang memperkenalkan tokoh-tokoh, serta tempat dan waktu terjadinya peristiwa, bagian tengah adalah perkembagan lebih lanjut konflik awal sampai ke puncak konflik yaitu klimaks, bagian akhir ditandai dengan penyelesaian konflik (resolution)[6].
2.      Devinisi Penelitian Naratif
Menurut Webster dan Metrova, narasi (narrative) adalah suatu metode penelitian di dalam ilmu-ilmu sosial. Inti dari metode ini adalah kemampuannya untuk memahami identitas dan pandangan dunia seseorang dengan mengacu pada cerita-cerita (narasi) yang ia  dengarkan ataupun tuturkan di dalam aktivitasnya sehari-hari.[7]
Penelitian naratif adalah studi tentang cerita. Dalam beberapa hal cerita dapat muncul sebagai catatan sejarah, sebagai novel fiksi, seperti dongeng, sebagai autobi-ographies, dan genre lainnya. Cerita ditulis melelu proses mendengarkan dari orang lain atau bertemu secara langsung dengan pelaku melelui wawancara. Studi tentang cerita dilakukan dalam berbagai disiplin keilmuan, termasuk sastra kritik, sejarah, filsafat, teori organisasi, dan sosial ilmu pengetahuan. Dalam ilmu sosial, cerita dipelajari oleh para antropolog, SOCI- ologists, psikolog, dan pendidik.[8]
Penelitian naratif biasanya digunakan ketika peneliti ingin membuat laporan naratif dari cerita individu. Peneliti membuat ikatan dengan partisipan dengan tujuan supaya peneliti maupun partisipan merasa nyaman. Bagi partisipan berbagi cerita akan membuatnya merasa ceritanya itu penting dan merasa didengarkan. Penelitian naratif juga digunakan ketika cerita memiliki kronologi peristiwa. Penelitian ini berfokus pada gambar mikroanalitik (cerita individu) daripada gambar yang lebih luas tentang norma kebudayaan, seperti dalam etnografi, atau teori-teori umum dan abstrak, seperti dalam grounded theory. Desain penelitian naratif ditinjau secara luas dalam bidang pendidikan baru pada tahun 1990. Tokoh pendidikan D. Jean Clandinin dan Michael Connelly untuk pertama kalinya yang memberikan tinjauan penelitian naratif dalam bidang pendidikan. Mereka menyebutkan dalam tulisannya beberapa aplikasi penelitian naratif dalam ilmu sosial, menguraikan proses pengumpulan catatan-catatan naratif dan mendiskusikan struktur atau kerangka penelitian dan penulisan laporan penelitian naratif. Tren atau kecenderungan mempengaruhi perkembangan penelitian naratif dalam bidang pendidikan. Cortazzi dalam Creswell mengemukakan tiga faktor. Pertama, sekarang ini ada peningkatan perhatian pada refleksi guru. Kedua, perhatian lebih ditekankan pada pengetahuan guru (apa yang mereka tahu, bagaimana mereka berpikir, bagaimana mereka menjadi profesional, dan bagaimana mereka membuat tindakan dalam kelas). Ketiga, pendidik mencoba membawa suara guru ke permukaan dengan memberdayakan guru untuk melaporkan tentang pengalaman mereka.[9]

D.      Jenis-Jenis Penelitian Naratif
Jenis narasi dapat dilihat dengan mengetahui pendekatan apa yang digunakan. Menurut  Polkinghorne (1995 hal 12) ada dua pendekatan yang bisa diambi yaitu pendekatan dengan membedakan antara analisis narasi dan analisis naratif dapat di pahami juga degan narasi sebagai data: data sebagai narasi.[10]
1.      Analisi narasi
Analisis narasi adalah sebuah paradigma dengan cara berpikir untuk membuat deskripsi tema yang tertulis dalam cerita atau taksonomi[11] jenis
2.      Analisis naratif,
Analisis naratif adalah sebuah paradigma dengan mengumpulkan deskripsi peristiwa atau kejadian dan kemudian menyusunya menjadi cerita dengan menggunakan alur cerita. 
Dari kedua pendekatan tersebut Pendekatan kedua adalah untuk menekankan berbagai bentuk yang ditemukan pada praktek penelitian naratif. Misalnya: sebuh otobiografi, biografi, dokumen pribadi, riwayat hidup, personal accounts, etnobiografi, otoetnografi. Untuk memperjelas mengenai analisis naratif tersebut akan di bahas sebagai berikut;
a)      Autobiografi bentuk studi naratif dimana individu atau orang lain yang ditulis subyek penelitian bagi tulisanya sendiri.
b)      Biografi adalah bentuk studi naratif dimana peneliti menulis dan mencatat pengalaman orang lain. Naratif otobiografi individu yang menjadi subjek studi yang menulis laporannya. Degan menaganlisis biografi kita dapat menentukan siapa yang menulis dan mencatat cerita individu.
c)      Riwayat hidup adalah suatu naratif dari keseluruhan pengalaman hidup seseorang. Fokusnya sering meliputi titik balik atau peristiwa penting dalam kehidupan individu. Dalam pendidikan, studi naratif secara khusus tidak meliputi laporan dari suatu keseluruhan kehidupan tetapi malah berfokus pada suatu bagian atau peristiwa tunggal dalam kehidupan individu. Dengan riwayat hidup kita dapat melihat berapa banyak dari suatu kehidupan yang dapat dicatat dan disajikan oleh penulis
d)     Personal account adalah suatu naratif mengenai seseorang Sebagai contoh, naratif guru tentang pengalamannya di dalam kelas. Studi naratif yang lain berfokus pada siswa di dalam kelas. Beberapa individu yang lain dalam latar pendidikan dapat memberikan cerita, misalnya tenaga administrasi, pramusaji, tukang kebun dan tenaga kependidikan yang lain. Dengan ini kita dapat melihat siapa yang memberikan cerita.
e)      Etnografi adalah deskripsi tentantang kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup; ilmu tentangt pelukisan kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup tersebar di muka bumi. Misalnya. Pandangan teoretis untuk Amerika latin menggunakan pandangan “testimonios”, untuk cerita tentang wanita menggunakan perspektif  “feminist”. Suatu pandangan teoretis dalam penelitian naratif adalah pedoman perspektif atau ideologi yang memberikan kerangka untuk menyokong dan menulis laporan Apakah suatu pandangan teoretis digunakan?
Jika peneliti merencanakan melakukan studi naratif, maka perlu mempertimbangkan jenis studi naratif apa yang akan dilakukan. Dalam studi naratif, untuk mengetahui jenis naratif apa yang akan digunakan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah mengetahui karakteristik esensial dari tiap-tiap jenis.

E.       Karakteristik Penelitian Naratif
Salah satu kunci karakteristik yang menonjol dalam penelitian narati adalah terdapat tujuh karakteristik utama penelitian naratif yaitu:[12]
a)      Pengalaman individu.
Peneliti naratif berfokus pada pengalaman satu individu atau lebih. Peneliti mengeksplorasi pengalaman-pengalaman individu. Pengalaman yang dimaksud pengalaman pribadi dan pengalaman sosial. Penelitian naratif berfokus memahami pengalaman masa lalu individu dan bagaimana pengalaman itu memberi kontribusi pada pengalaman masa sekarang dan masa depan
b)      Kronologi pengalaman.
Memahami masa lalu individu seperti juga masa sekarang dan masa depan adalah salah satu unsur kunci dalam penelitian naratif. Peneliti naratif menganalisis suatu kronologi dan melaporkan pengalaman individu. Ketika peneliti berfokus pada pemahaman pengalaman ini, peneliti memperoleh informasi tentang masa lalu, masa sekarang dan masa depan partisipan. Kronologi yang dimaksud dalam penelitian naratif adalah peneliti menganalisis dan menulis tentang kehidupan individu menggunakan urutan waktu menurut kronologi kejadian
c)      Pengumpulan cerita.
Peneliti memberi tekanan pada pengumpulan cerita yang diceritakan oleh individu kepadanya atau dikumpulkan dari beragam field texts. Cerita dalam penelitian naratif adalah orang pertama langsung secara lisan yang mengatakan atau menceritakan. Cerita biasanya memiliki awal, tengah dan akhir. Cerita secara umum harus terdiri dari unsur waktu, tempat, plot dan adegan. Peneliti naratif mengumpulkan cerita dari beberapa sumber data. Field texts dapat diwakili oleh informasi dari sumber lain yang dikumpulkan oleh peneliti dalam desain naratif. Cerita dikumpulkan dengan cara diskusi, percakapan atau wawancara.
d)     Restorying.
Cerita pengalaman individu yang diceritakan kepada peneliti diceritakan kembali dengan kata-kata sendiri oleh peneliti. Peneliti melakukan ini untuk menghubungkan dan mengurutkannya. Restorying adalah proses dimana peneliti mengumpulkan cerita, menganalisisnya dengan unsur kunci cerita (waktu, tempat, plot dan adegan) dan kemudian menulis kembali cerita itu untuk menempatkannya dalam urutan kronologis Ada beberapa tahap untuk melakukan restory :
1)   Peneliti melakukan wawancara dan mencatat percakapan dari rekaman suara.
2)   Peneliti mencatat data kasar/mentah dengan mengidentifikasi unsur kunci cerita.
3)   Peneliti menceritakan kembali dengan mengorganisir kode kunci menjadi suatu rangkaian atau urutan. Rangkaian yang dimaksud adalah latar (setting), tokoh atau karakter, tindakan, masalah dan resolusi.
4)   Peneliti melakukan wawancara dan mencatat percakapan dari rekaman suara.
5)   Peneliti mencatat data kasar/mentah dengan mengidentifikasi unsur kunci cerita.
6)   Peneliti menceritakan kembali dengan mengorganisir kode kunci menjadi suatu rangkaian atau urutan. Rangkaian yang dimaksud adalah latar (setting), tokoh atau karakter, tindakan, masalah dan resolusi
e)       Coding tema.
Peneliti naratif dapat memberi kode dari cerita atau data menjadi tema-tema atau kategori-kategori. Identifikasi tema-tema memberikan kompleksitas sebuah cerita dan menambah kedalaman untuk menjelaskan tentang pemahaman pengalaman individu. Peneliti menggabungkan tema-tema menjadi kalimat mengenai cerita individu atau memasukannya sebagai bagian terpisah dalam suatu penelitian. Peneliti naratif secara khusus memberi tema utama setelah proses restory
f)       Konteks atau latar.
Peneliti menggambarkan secara terperinci latar atau konteks dimana pengalaman individu menjadi pusat fenomenanya. Ketika melakukan restory cerita partisipan dan menentukan tema, peneliti memasukkan rincian latar atau konteks pengalaman partisipan. Latar atau setting dalam penelitian naratif boleh jadi teman-teman, keluarga, tempat kerja, rumah dan organisasi sosial atau sekolah.
g)      Kolaborasi.
Peneliti dan partisipan berkolaborasi sepanjang proses penelitian. Kolaborasi dalam penelitian naratif yaitu peneliti secara aktif meliput partisipannya dalam memeriksa cerita yang dibukakan atau dikembangkan. Kolaborasi bisa meliputi beberapa tahap dalam proses penelitian dari merumuskan pusat fenomena sampai menentukan jenis field texts yang akan menghasilkan informasi yang berguna untuk menulis laporan cerita pengalaman individu. Kolaborasi meliputi negoisasi hubungan antara peneliti dan partisipan untuk mengurangi potensi gap atau celah antara penyampai naratif dan pelapor naratif.
Kolaborasi juga termasuk menjelaskan tujuan dari penelitian kepada partisipan, negoisasi transisi dari mengumpulkan data sampai menulis cerita dan menyusun langkah-langkah untuk berbaur dengan partisipan dalam penelitian.

F.       Prosedur untuk Melaksanakan Penelitian
Prosedur untuk melakukan riset narasi menggunakan pendekatan yang diambil oleh Clandinin dan Connelly (2000) sebagai umum Panduan prosedural, metode melakukan studi narasi tidak mengikuti pendekatan kunci-langkah, melainkan merupakan koleksi informal topik.
1.      Tentukan apakah masalah penelitian atau pertanyaan paling cocok narasi penelitian. Penelitian Narasi yang terbaik untuk menangkap cerita rinci atau kehidupan pengalaman hidup tunggal atau kehidupan sejumlah kecil individu.
2.      Pilih satu atau lebih individu yang memiliki cerita atau pengalaman hidup memberitahu, dan menghabiskan banyak waktu dengan mereka mengumpulkan cerita mereka melalui kelipatan jenis informasi cerita tentang individu dari anggota keluarga, mengumpulkan dokumen tersebut sebagai memo atau korespondensi resmi tentang individu, atau memperoleh pho-tographs, kotak memori (koleksi item yang memicu kenangan), dan lainnya pribadi-keluarga sosial artefak. Setelah memeriksa sumber-sumber, peneliti mencatat pengalaman hidup individu.
3.      Mengumpulkan informasi tentang konteks cerita. Cerita peneliti menempatkan cerita individu dalam peserta 'pribadi pengalaman- ences (pekerjaan mereka, rumah mereka), budaya mereka (ras atau etnis), dan mereka-nya torical konteks (waktu dan tempat).
4.      Menganalisis cerita peserta, dan kemudian "restory" mereka ke dalam kerangka kerja yang masuk akal. Restorying adalah proses reorganisasi cerita ke dalam beberapa jenis umum dari kerangka. Kerangka kerja ini dapat terdiri dari mengumpulkan cerita, menganalisis mereka untuk elemen kunci dari cerita (misalnya, waktu, tempat, plot, dan adegan), dan kemudian menulis ulang cerita untuk menempatkan mereka dalam urutan kronologis (Ollerenshaw & Creswell, 2000). Seringkali ketika individu menceritakan kisah mereka, mereka tidak hadir dalam kronologis urutan. Selama proses restorying, peneliti memberikan kausal
Berkolaborasi dengan peserta secara aktif melibatkan mereka dalam penelitian (Clandinin & Connelly, 2000). Sebagai peneliti mengumpulkan cerita, mereka menegosiasikan hubungan, transisi halus, dan memberikan cara untuk menjadi berguna untuk para peserta. Dalam penelitian narasi, tema kunci telah menjadi turn arah hubungan antara peneliti dan diteliti di mana kedua pihak akan belajar dan berubah dalam pertemuan (Pinnegar & Daynes, 2006). Dalam proses ini, para pihak menegosiasikan makna dari cerita, menambahkan val-aidation periksa untuk analisis (Creswell & Miller, 2000). Dalam partisipasi Cerita celana juga bisa menjadi cerita jalinan peneliti mendapatkan wawasan dia atau hidupnya sendiri (lihat Huber & Whelan, 1999). Juga, dalam cerita mungkin pengalaman luar biasa atau titik balik di mana alur cerita perubahan arah secara dramatis. Pada akhirnya, studi narasi menceritakan kisah indi-vidu berlangsung dalam kronologi pengalaman mereka, mereka diatur dalam per-sonal, sosial, dan sejarah konteks, dan termasuk tema-tema penting dalam pengalaman-pengalaman hidup. "Permintaan Narasi adalah kisah hidup dan mengatakan," kata[13].

G.      Mengevaluasi penelitian naratif
Sebagai salah satu bentuk penelitian kualitatif, penelitian naratif perlu konsisten dengan kriteria penelitian kualitatif. Ada aspek-aspek spesifik naratif dalam membaca dan mengevaluasi studi naratif yang harus dipertimbangkan. Daftar pertanyaan berikut ini dapat digunakan untuk mengevaluasi laporan penelitian naratif.
1.      Apakah peneliti berfokus pada pengalaman individu?
2.      Apakah fokus pada seseorang atau beberapa orang individu?
3.      Apakah peneliti mengumpulkan cerita suatu pengalaman individu?
4.      Apakah peneliti malakukan restory cerita partisipan?
5.      Dalam restorying, apakah suara partisipan terdengar seperti suara peneliti?
6.      Apakah peneliti mengidentifikasi tema-tema yang muncul dari cerita?
7.      Apakah cerita ini termasuk informasi tentang tempat atau latar dari individu?
8.      Apakah cerita memiliki kronologis, urutan temporal termasuk masa lalu, sekarang, dan masa depan?
9.      Apakah ada bukti peneliti berkolaborasi dengan partisipan?
10.  Apakah cerita itu cukup menjawab tujuan dan pertanyaan peneliti?


H.      Kekuatan dan Kelemahan Desain Narasi[14]
Kekuatan
Kelemahan
·      Terlibat secara langsung
·      Memberikan gambaran topic
·      Membantu orang lain memahami topic
·      Data langsung dan lengkap mengenai topik
·              Topik dapat  "palsu data"
·              Kepemilikan cerita


I.         Contoh hasil penelitian narasi
Hasil peelitian seorang Muhammad Iqbal di bukukan Dalalam Biografi




J.        Penutup
Penelitian naratif adalah salah satu bentuk penelitian kualitaif dengan mengedepankan cerita dari individu yang kemudia di atur menjadi sebuah narasi dengan kadedah penulisan yang benar.


DAFTAR PUSTAKA

Donald E. Polkinghorne. 2007.Narasi dalam Penelitian. Di Sage Publikasi University of   Southern California, Los Angeles.. Volume X Nomor X. Bulan 2.007 XX..dapat di akses di http://qix.sagepub.com. Dalam laman google translid http://www.sonic.net/~rgiovan/essay.2.PDF di unduh pada 10/09/2012.

Hong Lysa. History Department and the Southeast Asian Studie, National University of Singapore dalam Sejarah Narasi http://wilkipedia.com/


http://www.sagepub.com/upm-data/13421_Chapter4.pdf dalam 04-Creswell2e.qxd di posting pada: 2006/11/28 03:39 Page 56

Dr William M. Bauer Penelitian Narasi Desain http://www.marietta.edu/~bauerm/Educ640PP/CH16-Narrative_files/CH

Leonard Webster dan Patricie Metrova (1953),Using Narrative Inquiry as a Research Method dalam: Metode Penelitian Naratifhttp://rumahfilsafat.com/ di posting pada 28/11/2009.

Profesor Pat Sikes dan Ken Gale. 2006. Narasi Pendekatan Penelitian Pendidikan di Inquiry Kualitatif, Fakultas Pendidikan, Universitas Plymouth, dalam http://ranslate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://www.edu.plymouth.ac.uk/resined/narrative/narrativehome.htm/
           
Santana K Septian, 2007. Metode Ilmiyah Metode Penelitian Kualitatif . Jakarta. Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAIP DKI Jakarta.

Siswantoro, 2010. Metode Penelitian Sastara Analisis Struktur Puisi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.




[1] Storyong: cerita. Menurut KBBI ce·ri·ta artinya 1 tuturan yg membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dsb): itulah -- nya ketika kami mendaki Gunung Sumbing; 2 karangan yg menuturkan perbuatan, pengalaman, atau penderitaan orang; kejadian dsb (baik yg sungguh-sungguh terjadi maupun yg hanya rekaan belaka); 3 lakon yg diwujudkan atau dipertunjukkan dl gambar hidup (sandiwara, wayang, dsb): film ini -- nya kurang bagus; 4 ki omong kosong; dongengan.
Dalam hal ini, manusia dalam kehidupanya berproses dari lahir sampai mati, diamana dalam menjalani berbagai aktifitasnya manusia memiliki alur kehidupan yang dipengaruhi oleh budaya,waktu,tempat dll diamana ia berpijak. Pengaruh tersebut menghasilkan kejadian-kejadian yang sering di pahami sebagai pengalaman, yang pada akhirnya pengalaman kehidupan individu tersebut akan diceritakan kepada orang lain. Exc: Narasi tentang seorang tokoh “Abdul Malik Fajar”
[2] Profesor Pat Sikes dan Ken Gale. 2006. Narasi Pendekatan Penelitian Pendidikan di Inquiry Kualitatif, Fakultas Pendidikan, Universitas Plymouth, dalam http://ranslate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en%7Cid&u=http://www.edu.plymouth.ac.uk/resined/narrative/narrativehome.htm/ diunduh pada 10/09/2012 pada 11.35am

[3] Leonard Webster dan Patricie Metrova (1953),Using Narrative Inquiry as a Research Method dalam: Metode Penelitian Naratif.  http://rumahfilsafat.com/ di posting pada 28/11/2009. di unduh pada 10/09/2011. 09.43 am.
[4] Hong Lysa. History Department and the Southeast Asian Studie, National University of Singapore dalam Sejarah Narasi http://wilkipedia.com/ diunduh pada 14/09/2012. 19.30 pm.
[5] Santana K Septian, 2007. Metode Ilmiyah Metode Penelitian Kualitatif . Jakarta. Yayasan Obor Indonesia Anggota IKAIP DKI Jakarta. Hal : 82
[6] Siswantoro, 2010. Metode Penelitian Sastara Analisis Struktur Puisi. Yogyakarta. Pustaka Pelajar. Hal: 37
[7] Leonard Webster dan Patricie Metrova, op.cit
[8] Donald E. Polkinghorne. 2007.Narasi dalam Penelitian. Di Sage Publikasi University of Southern California, Los Angeles.. Volume X Nomor X. Bulan 2.007 XX..dapat di akses di  http://qix.sagepub.com. Dalam laman google translid http://www.sonic.net/~rgiovan/essay.2.PDF di unduh pada 10/09/2012. 12.20am.


[9] http://nopriawanina.blogspot.com/2011/01/desain-penelitian-naratif.html
[10] http://www.sagepub.com/upm-data/13421_Chapter4.pdf dalam 04-Creswell2e.qxd di posting pada: 2006/11/28 03:39 Page 56 di unduh pada 10/09/2012 11.24am.
[11] Taksonomi adalah klasifikasi unsur bahasa menurut hubungan hierarkis; urutan satuan fonologis atau gramatikal yg dimungkinkan dalam satuan bahasa (Kamus Besar Bahasa Indonesia)
[12] ibid

[13] Dalam Inquiry Kualitatif dan Desain Penelitian http://www.sagepub.com/upm-data/13421_Chapter4.pdf diunduh pada 10/09/2012 11.48am.
[14] Dr William M. Bauer Penelitian Narasi Desain http://www.marietta.edu/~bauerm/Educ640PP/CH16-Narrative_files/CH